Industri Hilir Karet Harus Ditangani Serius

Indonesia adalah negara produsen karet alam terbesar ke dua di dunia setelah Thailand, padahal luas areal kebun karet Indonesia terluas di dunia (+ 3,4 juta hektar pada tahun 2010). Hal ini disebabkan oleh pencapaian produktivitas kebun karet Indonesia hanya berkisar 1,5 – 2,0 ton per hektar per tahun, lebih rendah dibandingkan dengan produktivitas kebun karet Thailand yang mencapai di atas 3 ton per hektar per tahun.

Dengan kondisi seperti ini, Indonesia sampai dengan tahun 2010 hanya dapat memberikan kontribusi sebesar 25-27% dari kebutuhan karet alam dunia. Ini berarti Indonesia masih mempunyai peluang yang cukup besar untuk menjadi produsen karet alam terbesar di dunia dan menurut ramalan pada tahun 2015 produksi karet alam Indonesia akan melampaui Thailand. Kemungkinan ini dapat terealisasi jika faktor-faktor penyebab rendahnya produktivitas kebun karet Indonesia dapat di atasi, antara lain peremajaan tanaman karet tua (sudah tidak produktif) yang diperkirakan mencapai 400 ribu hektar, pemakaian bibit unggul sesuai anjuran Pusat Penelitian Karet dan penanganan paska panen yang baik.

Faktor-faktor kendala tersebut sebaiknya ditangani dengan sungguh-sungguh karena saat ini luas areal karet Indonesia 85% didominasi oleh perkebunan rakyat dimana sebagian besar areal perkebunan rakyat tersebut masih dikelola secara tradisional, sedangkan sisanya sebesar 7% dikelola oleh perkebunan besar negara (PT.Perkebunan Nusantara) dan 8% dikelola oleh perkebunan besar swasta (PBS). Oleh karena itu peranan pemerintah sangat dibutuhkan untuk tercapainya sasaran Indonesia menjadi produsen karet alam terbesar di dunia, peranan yang diharapkan antara lain adalah ketersediaan kredit lunak untuk petani dalam rangka peremajaan tanaman karetnya, bimbingan teknis kepada para petani karet, ketersediaan pupuk dengan harga terjangkau oleh petani, dsb.

Saat ini produk karet Indonesia hampir 100% berupa produk industri hulu (setengah jadi) seperti karet sit (Ribbed Smoked Sheet, RSS), karet remah (Standard Indonesian Rubber, SIR), sit angin, latex pekat, dsb. Sedangkan produk industri hilirnya masih sangat terbatas jumlah produsennya, antara lain PT. Industri Karet Nusantara (PT. IKN) anak perusahaan PT. Perkebunan Nusantara III Medan, merupakan produsen industri hilir karet alam dengan berbagai produk antara lain rubber articles yang bahan bakunya 90% karet alam berupa SIR-10/20 & cutting + 10% karet sintetis yang menghasilkan berbagai produk barang jadi karet antara lain rubber dock fender, komponen-komponen untuk keperluan pabrik/industri seperti cement mill, centrifuge latex mill, crumb rubber mill, sugar mill, aluminium plant, oil palm mill, komponen bangunan tahan gempa dan beberapa aplikasi lainnya seperti conveyor belt, rubber mats, rubber bands dan produk lainnya sesuai pesanan. Produk rubber threads yang bahan bakunya 100% karet alam berupa latex pekat, merupakan bahan baku untuk industri garment, mebel, dsb. Produk resiprene 35 yang bahan bakunya 100% karet alam berupa SIR-10/20 + cutting, merupakan bahan baku untuk pembuatan cat kapal, cat dasar kendaraan, tinta cetak, vernish, pelapis cermin, cat dekorasi, isolator listrik, dsb.

Harga bahan baku untuk memproduksi produk hilir karet alam saat ini mengalami masa emas (booming harga), dimana harga jenis mutu terbaik (jenis RSS) telah mencapai di atas US$ 6 per kilogram, harga yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah perkebunan karet dan baru tahun 2011 ini (per Pebruari) menjadi kenyataan dapat menembus angka tersebut. Hal ini tentu saja membuat kesulitan bagi produsen barang jadi karet alam, karena pada umumnya hampir atau bahkan 100% bahan bakunya terbuat dari karet alam dan hanya sebagian kecil saja yang memerlukan karet sintetis yaitu kurang lebih hanya 10%. Keadaan seperti ini menjadi bertambah sulit lagi apabila produk jadi industri hilir karet tersebut pemasarannya masih belum lancar, sehingga sewaktu-waktu dapat mengancam kelangsungan produksi (eksistensi) industri hilir tersebut.

Bahan baku karet alam sangat diperlukan untuk proses pembuatan produk-produk industri hilir tersebut, karena tidak dapat tergantikan 100% oleh karet sintetis yang karakteristiknya banyak kelemahannya dibandingkan dengan karakteristik karet alam. Begitu juga dalam pembuatan ban kendaraan tetap memerlukan bahan baku karet alam dengan perbandingan bahan campuran karet sintetis dan karet alam menurut jenis ban adalah sebagai berikut :

Ban Mobil Penumpang 55% : 45%

Ban Truk Kecil 50% : 50%

Ban Mobil Balap 65% : 35%

Ban Off-The-Road (giant/earthmover) 20% : 80%

Disamping itu produk berbahan baku karet alam bersifat terbarukan (sustainable) dan ramah lingkungan, berbeda dengan karet sintetis yang bersifat sebaliknya. Apalagi pohon karet dari daun hingga batangnya semuanya dapat dimanfaatkan untuk keperluan umat manusia sebagaimana yang digambarkan dalam skema pohon industri karet berikut ini.

 

Jika disimpulkan, maka manfaat pohon karet sebagai berikut :

  • Getah (latex) nya digunakan untuk berbagai produk jadi untuk keperluan rumah tangga seperti ember, mebel, keset, matras, mainan anak, benang karet; untuk keperluan industri seperti otomotif, sepatu, tas, garment, selang, conveyor belt, alat kesehatan dan olahraga, dsb.
  • Batang (kayu) nya dapat dibuat mebel dan merupakan bahan bakar kamar asap pabrik RSS karena kandungan flavonoid yang ada dalam asapnya bermanfaat sebagai anti jamur pada blanket / lembaran sit.
  • Areal kebun karet berfungsi sebagai penangkap polutan di udara (dapat mengurangi pencemaran udara).

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, sangatlah bijaksana apabila pemerintah lebih serius menangani industri hilir karet ini dengan memberikan stimulus yang diperlukan oleh produsen-produsen industri hilir khususnya Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang usaha tersebut, sehingga industri tersebut bisa tetap eksis sekaligus bisa membuka lapangan kerja yang lebih luas lagi. Stimulus yang diperlukan antara lain tidak memberi kemudahan impor barang-barang sejenis, memberi keringanan/membebaskan pajak ekspornya, kemudahan dalam mengakses pasar, meningkatkan promosi secara besar-besaran dengan mengikuti event-event pameran berskala internasional, tentu saja dengan didukung oleh fasilitas sumber daya manusia (SDM) yang kompeten dan dukungan dana yang memadai, memperluas jaringan pemasaran di mancanegara dan diversifikasi produk jadi.

Produsen utama produk jadi industri hilir karet khususnya untuk jenis rubber threads adalah dari negara Thailand dimana jaringan pemasarannya sudah mendunia, berbeda dengan rubber threads produk PT.IKN sebagian besar masih didominasi oleh pembeli lokal (domestik) yang skala usahanya relatif kecil, meskipun pembeli dari luar negeri ada juga seperti China, India, Pakistan dan Korea, namun hanya sesekali saja jika ada kecocokan harga (disepakati bersama), baru diterbitkan kontraknya, sehingga sifatnya belum reguler. Produsen rubber threads di manca negara selain Thailand adalah India, China, Malaysia, Nepal, Taiwan, Pakistan, Srilanka dan Inggris.

Pesaing utama produk rubber articles utamanya negara India kemudian China. Jenis produk rubber article dari India dan China sangat bervariasi.

Resiprene 35 merupakan produk yang menggunakan teknologi dari Italia dan di Indonesia baru PT. IKN saja yang memproduksinya. Diperkirakan baik di Indonesia maupun manca negara belum ada pesaingnya. Ini merupakan peluang bagus untuk terus mengembangkan jaringan pemasarannya baik domestik maupun ke mancanegara. Berikut adalah beberapa contoh barang jadi industri hilir karet produksi PT.IKN (Indonesia), India dan China.

Penulis: BRD Uli Simorangkir (PT. Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara)

 

Add comment


Security code
Refresh

  • Teknologi
  • Kesehatan
  • Daerah
  • Budidaya

REDAKTUR PELAKSANA

Yuwono Ibnu Nugroho


REDAKSI

Hendra J Purba, Suntoro, Yogi Riswanto, Desputriayu, Nia, Puspa, Ida Farida

ALAMAT REDAKSI

Kanpus Kementerian Pertanian,  Gedung C. Lt.5 Ruang 507. Jl. RM. Harsono No. 3 Ragunan Jakarta 12550 Indonesia. Telp. 021-78846587, Fax: 021-78846587, Hunting Telp: 021- 7815380 ext. 4529, E-mail: media_perkebunan@yahoo.co.id, website www.mediaperkebunan.net

Template Joomla 1.6

Your are currently browsing this site with Internet Explorer 6 (IE6).

Your current web browser must be updated to version 7 of Internet Explorer (IE7) to take advantage of all of template's capabilities.

Why should I upgrade to Internet Explorer 7? Microsoft has redesigned Internet Explorer from the ground up, with better security, new capabilities, and a whole new interface. Many changes resulted from the feedback of millions of users who tested prerelease versions of the new browser. The most compelling reason to upgrade is the improved security. The Internet of today is not the Internet of five years ago. There are dangers that simply didn't exist back in 2001, when Internet Explorer 6 was released to the world. Internet Explorer 7 makes surfing the web fundamentally safer by offering greater protection against viruses, spyware, and other online risks.

Get free downloads for Internet Explorer 7, including recommended updates as they become available. To download Internet Explorer 7 in the language of your choice, please visit the Internet Explorer 7 worldwide page.