MP3EI: Karet, Kakao & Sawit

Keinginan yang besar dari pemerintah Indonesia untuk mempercepat laju pembangunan ekonomi Indonesia mencapai visi Indonesia Mandiri, Maju, Adil dan Makmur di tahun 2025, memunculkan terobosan pemikiran yang tidak biasa, yakni diluncurkannya Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Program terobosan tersebut diluncurkan pada saat Peringatan Kebangkitan Nasional, tanggal 20 Mei 2011 yang lalu, yang penulis yakini sebagai saat yang tepat untuk mengubah secara cerdas keunggulan komparatif Indonesia menjadi keunggulan kompetitif, di tengah persaingan global yang semakin sengit.

Intisari dari Visi MP3EI tahun 2011 - 2025 tersebut diwujudkan melalui tiga misi yang menjadi fokus utamanya, yang secara khusus disesuaikan dengan misi majalah “Media Perkebunan” ini sebagai berikut:

(1) Peningkatan nilai tambah dan perluasan rantai nilai proses produksi serta distribusi dari pengelolaan aset dan akses sumberdaya kelapa sawit, karet dan kakao Indonesia.

(2) Mendorong terwujudnya peningkatan efisiensi produksi dan pemasaran serta integrasi pasar domestik (untuk kelapa sawit, karet dan kakao) dalam rangka penguatan daya saing dan daya tahan perekonomian nasional.

(3) Mendorong penguatan sistem inovasi nasional di sisi produksi, proses, maupun pemasaran untuk penguatan daya saing global yang berkelanjutan, menuju ekonomi yang didorong inovasi pada industri kelapa sawit, karet dan kakao.

Fokus kinerja pemerintah pada MP3EI diletakkan pada delapan program utama, yaitu pertanian, pertambangan, energi, industri, kelautan, pariwisata, telematika, serta pengembangan kawasan strategis (Jabodetabek area dan KSN Selat Sunda). Kedelapan program utama tersebut secara terstruktur ditekankan melalui kinerja 22 kegiatan ekonomi utama yang akan dilaksanakan. Sembilan kegiatan diantaranya berada di ranah yang terkait pada sektor pertanian secara luas, yakni pertanian pangan, perikanan, perkayuan, peternakan, makanan dan minuman, kelapa sawit, karet, kakao dan pariwisata. Pilihan Pemerintah pada tiga komoditas perkebunan utama (kelapa sawit, karet dan kakao), sangat tepat mengingat ketiganya dapat dijadikan sokoguru pertumbuhan ekonomi di masa depan, karena kontribusi ketiganya yang penulis catat pada ekspor tahun 2010 berjumlah antara USD 24 – 26 Milyar, menyerap tenaga kerja sampai 10 juta orang, dan menghasilkan peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Kegiatan ekonomi utama pariwisata secara sengaja penulis masukkan ke dalam kelompok pertanian secara luas (agro-complex), mengingat pariwisata di Indonesia pada dasarnya banyak yang berhubungan dengan kegiatan eko dan agro-wisata. Sejak tahun 2008, penulis menggagas perlunya penguatan tiga kegiatan ekonomi yang saling menunjang dalam membangun ekonomi Indonesia, yakni melalui peningkatan kinerja dalam bidang agribisnis, agroindustri dan agrowisata (Gumbira-Sa’id, 2008).

Terdapat enam koridor ekonomi (KE) yang secara bersamaan harus dikembangkan, yakni KE Sumatera, KE Jawa, KE Kalimantan, KE Sulawesi, KE Bali – Nusa Tenggara, dan KE Papua – Kepulauan Maluku. Yang menarik adalah, KE Sulawesi secara khusus dijadikan pusat produksi dan pengolahan hasil pertanian, perkebunan, perikanan, migas dan pertambangan nasional. Dalam hubungannya dengan ketiga komoditas perkebunan yang dikaji, KE Sulawesi sangat cocok untuk kakao dan kelapa sawit, namun kurang strategis untuk karet, yang lebih cocok dikembangkan di KE Sumatera. Namun demikian, berdasarkan pemetaan kegiatan potensial, maka dalam MP3EI potensi terbesar kelapa sawit dipetakan berada di Sumatera dan Kalimantan, karet di Sumatera, sedangkan kakao di Sulawesi.

Fokus penekanan kegiatan ekonomi utama kelapa sawit berada pada rantai nilai kelapa sawit, yang dimulai dari perkebunan, penggilingan (PKS), penyulingan, dan pengolahan kelapa sawit di industri hilir. Agenda terpenting bagi perbaikan rantai nilai kelapa sawit dalam catatan MP3EI (Kemenko Perekonomian, 2011) adalah sebagai berikut:

(1) Peningkatan produksi kelapa sawit akan lebih difokuskan kepada peningkatan produktifitas CPO per hektar, yang saat ini baru mencapai 3,8 Ton/Ha, mengejar ketertinggalan dari Malaysia yang telah mampu mencapai 4,6 Ton/Ha. Dalam jangka panjang kegiatan di atas secara ambisius harus mencapai 7 Ton/Ha, yang secara hipotetik akan dapat dicapai di Indonesia.

(2) Dalam hal penggilingan tandan buah segar kelapa sawit, permasalahan yang harus diperbaiki adalah perbaikan infrastruktur jalan (akses jalan) dari lahan ke PKS, dan penyediaan tangki timbun yang memadai. Selain itu, secara nyata hasil penggilingan secara terstruktur harus mampu ditingkatkan, yakni dari rata-rata produksi CPO sekitar 21% menjadi diantara 24 – 25%.

(3) Dalam hal rantai nilai penyulingan, saat ini marginnya dianggap sangat rendah, yakni hanya USD 10/Ton (dari CPO menjadi minyak goreng). Margin di atas menjadi tidak menarik bagi investor yang lebih menyukai investasi di hulu, karena rantai nilai perkebunan mampu memberikan nilai sebesar USD 350/Ton).

(4) Sektor hilir kelapa sawit Indonesia kurang menerapkan manajemen rantai nilai, sehingga belum mampu memberikan nilai tambah yang besar, karena ragam produk yang dihasilkan masih terbatas kepada oleokimia dasar dan biodiesel yang produksinya belum menguntungkan. Namun demikian, hilirisasi produk kelapa sawit harus digalakkan karena akan memperkuat posisi strategis Indonesia dalam persaingan industri kelapa sawit global, terutama melawan Malaysia.

Dalam kegiatan ekonomi karet, MP3EI juga menitikberatkan perbaikan harus dilakukan agar sebagai produsen karet alami terbesar ke dua di dunia (kontribusi 28%) setelah Thailand (kontribusi 30%), maka rantai nilai industri karet juga perlu ditingkatkan, diantaranya melalui investasi PMDN dan PMA, diantaranya Hankook Korea Selatan yang diberitakan akan melakukan investasi lebih dari USD 3 milyar di Indonesia. Mengingat koridor ekonomi Sumatera menyumbang 65% dari produksi karet nasional, maka industri karet di Sumatera wajib dijadikan sebagai tempat berpatokduga bagi wilayah produksi di tempat lain, yakni pulau Jawa dan Kalimantan. Saat ini, bagian terbesar dari produksi karet alami di Indonesia (sekitar 80%) dihasilkan oleh perkebunan rakyat, sekitar 10% oleh perkebunan negara, dan 10 % lainnya oleh perkebunan besar swasta. Oleh karena itu, kinerja perkebunan rakyat harus ditingkatkan, terutama dalam akses ke permodalan, pasar dan bantuan inovasi teknologi.

Kegiatan utama industri karet dalam rantai nilainya juga berasal dari tiga kegiatan, yakni di perkebunan, pengolahan dan industri hilir karet.Mengingat produksi karet rakyat hasilnya 30% di bawah produktivitas perkebunan besar negera dan swasta, maka salah satu usaha terbesar yang harus dilakukan adalah meningkatkan produktivitas karet per hektarnya. Berdasarkan analisis Tim MP3EI (2009) terhadap lima negara produsen karet disimpulkan bahwa produktivitas karet dari kebun siap panen 2008, India menghasilkan karet sebanyak 1903 kg/ha, Thailand 1699 kg/ha, Vietnam 1661 kg/ha, Malaysia 1411 kg/ha dan Indonesia hanya 993 kg/ha. Dengan demikian sangat jelas bahwa sistem budidaya, pemeliharaan, dan teknologi pasca panen karet rakyat Indonesia harus diperbaiki, mengingat kepemilikan lahan karet oleh masyarakat petani di negara-negara Thailand (99%) , Malaysia (95%) dan India (90%) berada di atas Indonesia (85%), sedangkan Vietnam di bawahnya (50%).

Walaupun produktifitasnya masih rendah Tim MP3EI (2011) melaporkan bahwa kegiatan perkebunan karet mampu menghasilkan margin keuntungan antara USD 300 – 1000/ton, sedangkan usaha pengolahan oleh UKM kecil hanya menghasilkan margin keuntungan USD 200 – 400/ton. Di lain pihak industri hilir, yang mampu mengolah karet alami menjadi ragam produk hilir seperti ban, sarung tangan, sepatu dan produk kimia juga menghasilkan margin keuntungan diantara USD 200 – 400/ton karet.

Dengan demikian, fokus perbaikan untuk industri karet dalam MP3EI adalah sebagai berikut:

(1) Perbaikan mutu bibit karet (wajib bersertifikat), perbaikan teknik budi daya (jarak tanam) dan perawatan tanaman karet yang baik. Sebanyak mungkin dihimbau untuk menggunakan kultivar karet bibit unggul (siap panen umur 3,5 tahun);

(2) Melakukan budidaya tumpang sari pada dua tahun pertama budidaya karet dengan tanaman pangan, seperti kacang tanah, jagung, ubi jalar dll, sehingga menambah penghasilan petani karet, dan secara tidak langsung ikut membangun ketahanan pangan setempat;

(3) Mengeliminasi kecurangan pencampuran lateks dengan bahan-bahan pengotor karet oleh para petani karet, serta meminimalkan jumlah pedagang perantara karet, agar penghasilan yang diterima petani menjadi lebih besar;

(4) Perlu dilakukan penataan kelembagaan dan eksistensi para pengolah karet rakyat yang tidak efisien, perbaikan teknik pengolahan karet rakyat (bokar) dan karet lembaran (sheet);

(5) Menumbuhkembangkan industri produk hilir karet di dalam negeri, terutama untuk ban, sarung tangan, busa kasur dan bantal, kondom, sol sepatu, vulkanisir ban dll.

Khusus untuk pengembangan usaha utama kakao, Indonesia yang merupakan produsen 18% kakao dunia, yakni nomor dua di bawah Pantai Gading, MP3EI mengetengahkan keinginan Indonesia untuk meraih devisa yang sangat besar dari kakao. Bila pada tahun 2009 devisa dari kakao yang dihasilkan adalah USD 1,38 milyar, maka pada tahun 2025, Indonesia berambisi untuk memperoleh devisa sebesar USD 6,25 milyar dari ekspornya ke USA, Uni Eropa dan negara-negara lainnya.

Pada dasarnya MP3EI lebih banyak menyoroti industri kakao dengan pengembangannya yang berada di koridor ekonomi Sulawesi. Sangat dimengerti karena Sulawesi merupakan penghasil 63% kakao nasional, dari 58% luasan pertanaman kakao nasional. Namun demikian, produktivitas kakao di Sulawesi juga cenderung stagnan atau menurun, yakni sekitar 0,4 – 0,6 ton/ha, dibandingkan dengan potensi produktivitasnya yang sebesar 1 – 1,5 ton/ha.

Oleh karena itu, fokus utama perbaikan kinerja kakao adalah sebagai berikut:

(1) Melakukan penanaman kakao bibit unggul, perbaikan tekniki budidaya dan perawatan tanaman kakao;

(2) Melakukan perawatan tanaman dari penyakit kakao, dan juga pembasmian penyakit cocoa pod borrer (CPB);

(3) Melakukan fermentasi buah kakao agar menghasilkan citarasa dan mutu serta harga biji kakao tersertifikasi yang lebih tinggi;

(4) Peningkatan produksi dan nilai tambah kakao atau cokelat di dalam negeri.

Secara fokus Tim MP3EI (2011) juga menjelaskan bahwa kegiatan ekonomi utama kakao berfokus pada peningkatan hasil rantai nilai hulu dan pengembangan industri hilir kakao. Peningkatan produksi hulu kakao akan dilaksanakan sebagai berikut:

(1) Peningkatan produksi, produktifitas dan mutu kakao secara berkelanjutan;

(2) Penguatan Gerakan nasional Biji Kakao Fermentasi, yaitu peningkatan mutu biji kakao melalui fermentasi dan sertifikasi;

(3) Percepatan pengembangan infrastruktur pendukung perkakaoan nasional.

Di lain pihak, hilirisasi kegiatan utama kakao diarahkan kepada kegiatan-kegiatan berikut:

(1) Peningkatan utilitas kapasitas industri pengolahan kakao yang ada;

(2) Peningkatan pangsa pasar hilir di dalam dan di luar negeri;

(3) Penerapan Standar Internasional dalam rangka peningkatan mutu produk industri hilir kakao.

Menurut perspektif penulis, berbasis berbagai kajian dan pengalaman, secara keseluruhan apa yang diinginkan oleh Pemerintah mengenai tiga komoditas perkebunan terunggul Indonesia di atas melalui MP3EI masuk akal / rasional dan telah cukup fokus. Namun demikian, meminjam kredo keberhasilan dari Thomas Alva Edison, salah seorang inventor dan inovator terbaik dunia, fokus dan rasional belum akan menjamin keberhasilan suatu terobosan, tanpa dibarengi dengan kerja keras. Oleh karena itu, marilah kita sambut MP3EI di bidang perkebunan di atas dengan antusias. Marilah kita jadikan ketiga komoditas di atas menjadi sokoguru pembangunan ekonomi Indonesia, penyokong keberlanjutan peradaban, dan ladang amal ibadah yang mendapatkan pahala yang berlimpah dari Allah SWT. Amiiin.

Penulis: Prof. E Gumbira Sa’id, Guru Besar Teknologi Industri Perkebunan, IPB

 

Add comment


Security code
Refresh

  • Teknologi
  • Kesehatan
  • Daerah
  • Budidaya

REDAKSI MEDBUN

Heri Moerdiono, Hendra J Purba, Suntoro, Ika Sriyantika, Ida Farida, Yogi Riswanto, Yuwono Ibnu Nugroho, Desi Putri Rahayu, Ema Teron, Puspa, Agus

ALAMAT REDAKSI

Kanpus Kementerian Pertanian,  Gedung C. Lt.5 Ruang 507. Jl. RM. Harsono No. 3 Ragunan Jakarta 12550 Indonesia. Telp. 021-78846587, Fax: 021-78846587, Hunting Telp: 021- 7815380 ext. 4529, E-mail: media_perkebunan@yahoo.co.id, website www.mediaperkebunan.net

Template Joomla 1.6

Your are currently browsing this site with Internet Explorer 6 (IE6).

Your current web browser must be updated to version 7 of Internet Explorer (IE7) to take advantage of all of template's capabilities.

Why should I upgrade to Internet Explorer 7? Microsoft has redesigned Internet Explorer from the ground up, with better security, new capabilities, and a whole new interface. Many changes resulted from the feedback of millions of users who tested prerelease versions of the new browser. The most compelling reason to upgrade is the improved security. The Internet of today is not the Internet of five years ago. There are dangers that simply didn't exist back in 2001, when Internet Explorer 6 was released to the world. Internet Explorer 7 makes surfing the web fundamentally safer by offering greater protection against viruses, spyware, and other online risks.

Get free downloads for Internet Explorer 7, including recommended updates as they become available. To download Internet Explorer 7 in the language of your choice, please visit the Internet Explorer 7 worldwide page.