Monday, 05 December 2011 08:02   
Sertifikasi, Masalah Utama Petani Kelapa Sawit

Permasalahan terbesar yang dialami petani kelapa sawit saat ini menurut Ketua Umum Apkasindo (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia) Anizar Simanjuntak adalah sertifikasi lahan. ”Dari lahan sebesar 4 juta ha milik petani hanya 11-12% yang punya sertifikat. Jadi apapun yang diprogramkan pemerintah seperti revitalisasi tidak akan jalan tanpa sertifikat lahan” kata Anizar.

Anizar menyarankan pada pemerintah supaya mengutamakan sertifikasi lahan ini. Selama ini yang kurang adalah sosialisasi cara mengurus sertifikat. Petani masih menganggap berurusan dengan Badan Pertanahan Nasional itu sulit.

“Kepala Daerah harus aktif mensosialisasikan kepada petani.BPN juga harus melakukan jemput bola. Selain itu biaya pengurusannya dikurangi sehingga tidak terlalu memberatkan petani. Perlu kesungguhan pemerintah dan koordinasi yang baik antar instansi pemerintah” kata Anizar lagi.

Perlu ada mekansime supaya Bea Keluar yang sudah terkumpul triliunan rupiah bisa langsung dikembalikan kepada petani kelapa sawit. Kalau sertifkasi sudah berjalan maka pelaksaanan revitalisasi perkebunan tidak sulit.

“Bahkan saya punya keinginan kalau sertifikasi sudah berjalan, revitalisasi tidak perlu avalis dari perusahaan tetapi bisa dilakukan oleh Apkasindo sendiri. Caranya petani yang sudah punya sertifikat ini bergabung membentuk sebuah perusahaan dengan pemegang sahamnya seluruh petani. Dengan luas lahan masing-masing petani 3-4 ha kita bisa menjadi perusahaan perkebunan terbesar” kata Anizar.

Perusahaan ini nanti dipimpin orang profesional. Malaysia saja dengan dana haji bisa membangun perkebunan kelapa sawit yang besar di Indonesia.”Indonesia kalau sudah bicara konsep jago tetapi implementasinya susah. Malaysia diam saja tetapi dengan dana haji 30% perkebunan kelapa sawit di Indonesia sudah dikuasai” kata Anizar.

Perhatian pemerintah terhadap petani kelapa sawit setengah hati ditambah koordinasi antara pemerintah sendiri sangat lemah membuat upaya pemberdayaan petani kelapa sawit terhambat. “Contohnya ada percontohan pertanaman kelapa sawit di Labuhan Batu. Kita kirim nama 900 orang yang mendapat hanya 32 orang” katanya.

Pemerintah masih menganggap petani kelapa sawit kuat. Padahal berapa persen petani kelapa sawit yang kuat, sisanya banyak yang miskin dan rentan terhadap penurunan harga. Harga sekarang yang mencapai Rp900/kg sangat memukul petani.

Mengenai kualitas perkebunan kelapa sawit rakyat, Anizar yakin lima tahun kedepan sekitar 80% kebun milik petani sudah bagus. Sejak tahun 2005 petani sudah menanam dengan bibit unggul yang bersertifikat. Apkasindo juga aktif mengadakan pelatihan bekerjasama dengan GAPKI dan LPP Medan, yang sekarang sudah masuk angkatan ke 9. Bulan Februari 2012 pelatihan akan diteruskan.

Sekarang Apkasindo sedang menjajaki kerjasama pembibitan kelapa sawit dengan BUMN. Dengan kecambah PPKS dari seluruh DPW diharapkan ada tiga DPP sebagai tempat pembibitan. Pembiayaan akan memanfaatkan dana CSR dari BUMN itu. “ Mereka sudah siap dan akan ditindaklanjuti. Tahun 2017 diharapkan seluruh petani kelapa sawit sudah menggunakan bibit bermutu yang bersertifikat” katanya.

Perjuangan GAPKI untuk merevisi Permentan No. 17 tahun 2010 tentang pedoman penetapan harga Tandan Buah Segar sampai sekarang belum ada beritanya. Pelaksanaan Permentan No. 26 Tahun 2007 juga belum ada. Rencana Mentan untuk sidak tahun lalu sampai sekarang tidak ada realisasinya.

“Kalau pemerintah konsisten dan mewajibkan tentu perusahaan tidak bisa mengelak. Tetapi sekarang dengan berbagai cara perusahaan bisa mengelak. Perusahaan enggan melakukan kemitraan karena tidak mau repot dan risikonya tinggi” kata Anizar lagi.

Tidak jelasnya revisi Permentan No. 17 Tahun 2010 membuat Apkasindo mencari investor untuk membangun pabrik kelapa sawit di sentra - sentra produksi petani kelapa sawit. Hal ini untuk menjaga supaya petani jangan dipermainkan dalam hal harga.

“PKS-PKS perusahaan memberi harga tinggi ketika petani itu menjadi petani plasma. Ketika kredit sudah lunas dan petaninya sudah lepas jadi petani mandiri harga TBS dikurangi Rp200/kg. Tidak ada jalan lain bagi kami selain mengundang investor membangun Pabrik Kelapa Sawit untuk menampung TBS petani” katanya.(S)

 

Add comment


Security code
Refresh

REDAKSI MEDBUN

Heri Moerdiono, Hendra J Purba, Suntoro, Ika Sriyantika, Ida Farida, Yogi Riswanto, Yuwono Ibnu Nugroho, Desi Putri Rahayu, Ema Teron, Puspa, Agus

ALAMAT REDAKSI

Kanpus Kementerian Pertanian,  Gedung C. Lt.5 Ruang 507. Jl. RM. Harsono No. 3 Ragunan Jakarta 12550 Indonesia. Telp. 021-78846587, Fax: 021-78846587, Hunting Telp: 021- 7815380 ext. 4529, E-mail: media_perkebunan@yahoo.co.id, website www.mediaperkebunan.net

Template Joomla 1.6

Your are currently browsing this site with Internet Explorer 6 (IE6).

Your current web browser must be updated to version 7 of Internet Explorer (IE7) to take advantage of all of template's capabilities.

Why should I upgrade to Internet Explorer 7? Microsoft has redesigned Internet Explorer from the ground up, with better security, new capabilities, and a whole new interface. Many changes resulted from the feedback of millions of users who tested prerelease versions of the new browser. The most compelling reason to upgrade is the improved security. The Internet of today is not the Internet of five years ago. There are dangers that simply didn't exist back in 2001, when Internet Explorer 6 was released to the world. Internet Explorer 7 makes surfing the web fundamentally safer by offering greater protection against viruses, spyware, and other online risks.

Get free downloads for Internet Explorer 7, including recommended updates as they become available. To download Internet Explorer 7 in the language of your choice, please visit the Internet Explorer 7 worldwide page.